LokaTekno -- Linux
Foundation mengumumkan bahwa mereka
akan turut serta mengembangkan pesawat tanpa awak (drone) dalam proyek bernama Dronecode.
Direktur Eksekutif Linux Foundation
Jim Zemlin mengatakan kalau software open
source dan kerjasama dari berbagai pihak akan memberikan kemajuan teknologi
yang sangat signifikan.

Jim berharap kalau Dronecode Project adalah salah satu cara untuk memberikan kemajuan teknologi. Terlebih Linux Foundation mempunyai anggota dari para perusahaan ternama dunia seperti 3D Robotics, Baidu, Box, Intel, Qualcomm dan lain-lain.
Proyek pengembangan drone dari Linux Foundation ini termasuk adalah proyek PX4, software APM/ArduPilot UAV serta kode yang berhubungan. Bahkan saat ini sudah ada sebanyak 1200 developer yang berkomitmen untuk turut serta dalam proyek ini, seperti dikutip dalam Beritateknologi.com, Kamis (15/10).
Selain itu, juga sudah
ada sekitar 150 kode pada beberapa proyek. Sosok Andrew Tridgell yang sebelumnya
mengerjakan APM/ArduPilot pun bakal
menjadi Technical Stering Commite
dari proyek ini. (ws/bt)
=======================================================================
INFO LAIN
Jokowi
Sempat Mengatakan Drone Di Indonesia
LokaTekno
-- Saat dilangsungkannya Debat Capres 2014 antara 2 Calon presiden, Prabowo
Subianto dan Joko Widodo, Jokowi sempat berbicara masalah drone. Ketika Prabowo bertanya masalah Indosat,
Jokowi memulai jawaban dengan mengatakan sedikit tentang drone. Dalam
penjelasannya, untuk ketahanan nasional, Indonesia sangat butuh drone.
Secara artian jelas dan
singkat, drone adalah pesawat pengintai tak berawak yang dijalankan dengan
pusat kendali di suatu tempat dengan menggunakan komputer atau juga remote control. Selain dapat
dikendalikan, drone juga dapat di setting
untuk dapat terbang sendiri (otomatis).
Merunut penjelasan dari
Wikipedia, drone adalah unmanned aerial vehicle (UAV) yang disebut
pula dengan nama Remotely Piloted
Aircraft (RPA) oleh International
Civil Aviation Organization (ICAO). Drone ini dibagi dua karena memang
tugas dari keduanya berbeda, walaupun polanya sama. Drone versi pertama adalah
combat drone atau drone untuk keperluan pengintaian, peperangan dan
penyerangan.
Dikarenakan memiliki
fungsi sebagai alat pengintai sekaligus penyerang, maka pesawat terbang tanpa
awak ini dilengkapi dengan senjata. Drone versi kedua adalah dibuat dengan
fungsi untuk sarana pengangkatan sesuatu benda atau barang atau juga terkadang
digunakan untuk melakukan tugas yang dianggap kotor dan terlalu berbahaya bagi
manusia, contohnya di tempat yang memiliki tingkat radiasi tinggi.
Tentunya karena tidak
memiliki awak, maka drone dilengkapi dengan kamera infra-red, Global Positioning
Systems (GPS) dan sistem komputer yang terkoneksi dengan pusat kendalinya. Drone
tidak hanya dapat terbang dengan waktu lama dan jauh saja, pesawat tanpa awak
ini juga mampu untuk bermanuver serta terbang sangat tinggi untuk menghindari
radar.
Sekarang ini, drone
sudah mulai diadopsi secara perlahan baik oleh pihak militer atau sipil. Salah
satunya adalah Amazon yang menggunakan drone sebagai sarana pengiriman barang
ke pelanggannya, seperti dikutip dalam Merdeka.com, Kamis (23/10).
Dari waktu ke waktu
bentuk dan desain drone juga mengalami banyak pembenahan dan perubahan. Saat
ini, sudah banyak sekali bentuk drone yang beredar dan digunakan baik oleh
pihak sipil atau juga militer, bahkan Indonesia juga sudah mengembangkan
pesawat tanpa awak ini.


0 komentar:
Post a Comment